Jumat, 27 Agustus 2010

Crack!

Hari ini seharian aku memang kacau.
Aku bercerita sedikit kepada temanku yang sedang belajar di Perancis. Kebanyakan dia bilang aku sebenarnya normal saja, tak ada yang salah dengan sikap dan keadaan mentalku. Kupikir ada benarnya juga dia, sebab kalau aku sudah gila, aku bahkan pasti sudah lupa caranya menulis blog.
Begitulah, meskipun aku agak merasa kacau, tapi kenyataannya semua baik-baik saja. Tidak ada yang meninggal, orangtuaku masih rukun, imanku masih lumayan, aku sendiri tidak terserang penyakit. Untuk ini aku ingin bersyukur pada Allah SWT. Alhamdulillah.
Tapi tahu tidak, baru semenit yang lalu aku mendapat suatu gagasan. Aku mendengar ada sekitar tiga orang yang tinggal 3 blok dari blok rumahku, mereka terjangkit DBD. Demam Berdarah Dengue. Mereka semua diopname karena itu, akibatnya orang-orang sekitar jadi paranoid dan mereka berencana untuk melakukan fogging (penyemprotan, kawan, kalau kau tidak tahu).
Mendengar itu, justru aku merasa kesal. Kupikir, kenapa tidak biarkan saja nyamuk-nyamuk itu hidup dan menggigitku? Saat ini aku sedang mencari cara bagaimana caranya supaya aku tinggal barang tiga hari diluar rumah ini. Meskipun itu harus rumah sakit. Maksudku mungkin enak juga kalau harus menginap disana sebentar. Kau tahulah kalau seseorang diopname karena sakit, meskipun sekadar tifus, mereka akan diperhatikan, dijenguk dan segala macam. Dan mereka dapat suasana baru, for God's sake! Aku benar-benar lagi kepingin, nih. Bodoh juga sih kedengarannya, tapi aku gak minta penyakit apapun selain itu. Itu kan tidak parah-parah amat. Sedanglah.

Kan? Sudah kubilang aku ini memang sinting. Aku bahkan berpikir kayaknya kalaupun lusa itu kiamat ya silakan. Bagus. Gagasan ini langsung terpikir begitu saja saat semalam ayahku memintaku untuk meraih gelar profesor. Profesor bidang sejarah Islam. Tapi aku kira bukankah itu gelar kehormatan atas kontribusi kita untuk sesuatu? Sedangkan aku benar-benar tidak terpikir untuk berkontribusi untuk itu. Sungguh. Apakah itu masalah. Masalahnya kalau ayahku sudah meminta itu artinya ia ingin aku melaksanakannya. Faktanya, ia tidak pernah meminta. Ia selalu menyuruh.

Dari awal aku memang berniat curhat di blog.

By the way, kids, adikku yang terakhir, si Vira---yang cantik itu---dia ikut perlombaan semacam fashion show tapi dengan busana muslimah. Lumayan juga dia. Dia memang suka bersolek. Tapi bukan bersolek norak. Jelasnya dia itu berlawanan denganku, yang tidak pernah memanjangkan rambut lebih dari leher (kecuali sekali waktu TK). Jadi waktu dia sedang mematut-matut diri di depan kaca sambil menguncir ekor kuda rambutnya, aku berkomentar :

"Terus saja dikuncir, nt bagusan dikuncir daripada digerai,"

Dia agak ge-er juga aku puji, "Masa? Bukannya bagusan digerai??". Dia masih sok ragu dengan pujianku padahal jelas betul dia senang dipuji dengan penampilan barunya.

"Iya bagusan dikuncir.."

"Tapi rambut aku 'kan shaggy, jadi agak berantakan kalo dikuncir...", rambutnya memang rada mencuat kemana-mana sewaktu dikuncir. Tapi aku bilang saja ;

"Nggak, keren kali. Kayak Kenshin Himura,"

Dia keliatan bingung, dia bertanya siapa itu Kenshin? Aku jawab saja; 'pokoknya dia cantik'. Ia setuju dan tampak puas. Lalu melenggang pergi ke masjid dengan kuncirnya itu.

NB : agak ngantuk hari ini, sesorean tadi cuma chat sama temen. Beneran gak berguna hidup ane. Besok ada kejadian apalagi nih selain dapet pulsa 50.000.

Kenshin Himura

Senin, 23 Agustus 2010

Remembering River Phoenix, 40th by Yesterday...

Perhatian sebelum membaca, ane bukan penggemar River Phoenix yang fanatik. Ane penggemar film, dan ane menyukai anak ini lebih dari sekadar aktor yang sangat baik. Kau bisa bilang cewek-cewek penggila Justin Bieber itu penggemar fanatik, tapi itu tidak berlaku di kasusku. Terima kasih banyak.


River Jude Phoenix atau lebih dikenal dengan River Phoenix. Seorang aktor Hollywood yang sangat terkenal di era akhir dekade 80'an. Seorang aktivis lingkungan yang banyak berkomitmen untuk melindungi satwa liar dan perusakan hutan, seorang vegetarian pecinta damai, dan seorang kakak tertua dari 5 bersaudara keluarga Phoenix. Ia lahir di tanggal yang sama dengan hari kemarin, 23 Agustus 1970 (tahun ketika Beatles, band kesukaannya, bubar). Meninggal 31 Oktober 1993, ambruk di depan klub malam ternama di Hollywood karena overdosis narkoba.

You have no idea who was this man.

Ketika seseorang berpikir dengan sedih John Lennon ditembak mati, ketika Michael Jackson wafat karena overdosis obat, ketika Mahatma Gandhi tertembak ditengah kerumunan pengikutnya, ketika John F. Kennedy tewas ditembak... (entah kenapa penyebab yang kusebutkan karena tertembak semua), kita berpikir alangkah sayangnya. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang berpengaruh dibidang masing-masing.. Tapi perbedaannya adalah.. mereka meninggal bukan diusia muda.

River Phoenix meninggal diusia 23 tahun. Meninggalkan kenangan mendalam yang menyakitkan bagi orang-orang terdekatnya. Media mengumumkan cara kematiannya yang kontradiktif dengan imejnya selama ini yang bersih besar-besaran. Teman-teman dan keluarganya, yang lebih mengenalnya, memilih untuk tutup mulut tentang apa yang sebenarnya terjadi dan mengenangnya dengan cara yang luar biasa baik. Begitu pula aku. Tapi bahkan semua itu belum cukup untuk menyingkap gerhana gelap kematiannya yang menutupi cara hidupnya, sifat baiknya, ideologi, dan kepercayaannya tentang perdamaian.

Selagi kau berpikir, mungkin aku terdengar sok tahu tentang River Phoenix, aku sudah menonton hampir semua filmnya, dimana aktingnya luar biasa bagus (dia mendapat nominasi Oscar ketika usia 17 tahun dari film Running On Empty), membaca artikel baik dari fan sitenya di internet maupun sekadar essay yang dikarang jurnalis dari Guardian, TIME, Spin, Elle, Mademoiselle, Sky, dan lain-lain, menonton beberapa video tribut dan lagu ciptaan beberapa musisi khusus tentang River Phoenix, dan lain-lain. That was quite enjoyment but yes, that's sad. It always does. 

Ia adalah orang yang menarik. Sepanjang pengetahuanku, berdasarkan apa yang kusimpulkan dari film dokumenter, buku, lagu ciptaannya, dan esai yang ia tulis sendiri di majalah remaja. River Phoenix bukan orang sekadar numpang lewat di Hollywood. Banyak orang berkata ia memiliki bakat hebat seperti James Dean, si aktor The Young and The Restless yang melegenda itu. Sampai sekarang sering bakatnya disandingkan dengan kualitas akting Leonardo DiCaprio, Johnny Depp (aku kurang setuju, Depp adalah karakter yang berbeda), Brad Pitt, dan Christian Bale. Ia memang berada di daftar aktor-aktor kelas A. Aku yakin seandainya ia masih hidup, mungkin ia sudah mengantongi piala Oscar dua atau tiga. Kau boleh membenarkan ucapanku tadi dengan menonton filmnya seperti Stand By Me, My Own Private Idaho, atau film seperti Dogfight dan Running On Empty.

Ia memiliki segalanya, ketampanan yang mampu membuat siapapun terkesan, tak hanya sekadar ketampanan, tapi juga karisma. Mirip seperti karisma Leonardo DiCaprio namun lebih santai dan pemalu. Kaya, terkenal, berbakat, dan dicintai keluarga. Kau tidak punya gagasan mengapa hidupnya berakhir demikian tragis. Sebuah ironi yang menambah daftar panjang kematian tragis orang-orang terkenal. Ingat Kurt Cobain?

Tapi ia lebih dari sekadar boneka pajangan produk Hollywood. Ia adalah seorang pria muda dengan impian dan ideologi. Ia percaya bahwa salah satu cara menggapai perdamaian dunia adalah dengan tidak membunuh makhluk hidup, meski untuk makan. Itulah mengapa ia memilih untuk jadi vegetarian, meskipun terpengaruh oleh cara keluarganya. Ia bahkan memanfaatkan bakat musikalnya untuk mengadakan konser amal untuk organisasi pelindung hewan seperti PETA, Greenpeace, dan lain-lain. Membeli 300 ekar tanah di Venezuela hanya untuk melindunginya agar tidak ditebang. Ia berbuat tanpa lelah, tidak hanya berideologi.
Hal yang jarang apalagi untuk ukuran selebriti Hollywood.

Dengan segudang misi dan pencapaian, dunia terbuka lebar untuknya. Namun ternyata itu semua tak mampu menyelamatkannya dari kehidupan gelap di klub-klub malam. Sesuatu dalam dirinya, bentuk dari frustasi mendalam dengan tekanan hidup, mendorongnya masuk kedalam jurang narkotika dan alkohol. Sesuatu yang sepertinya berat dihadapi orang perasa sepertinya. Ya, River Phoenix adalah orang yang sangat perasa.

Jika kau perhatikan setiap foto dirinya, tak akan kau temukan semacam kebanggaan dan kebahagiaan. Ia selalu tampak murung. Ini terkadang membuatku berpikir; apa yang mengganggu pikirannya. Semua orang tahu ia adalah orang yang bersemangat, passionate, dan pekerja keras. Tapi mereka juga tahu, pada tahun-tahun terakhir hidupnya, ia tidak pernah bahagia. Apakah ia menyesal? Apa yang dia sesalkan?

River, sungai. Phoenix, burung lambang keabadian. Nama tengahnya, Jude, diambil dari lagu Beatles yang terkenal; "Hey, Jude". Beberapa orang berkomentar mengenai namanya yang tidak biasa: nama yang sangat hippie. Keluarganya memang mantan hippie Amerika tahun 60'an. Lahir dilingkungan seperti itu, hidup berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain dengan trailernya, sebagaimana umumnya keluarga hippie waktu itu, lalu tidak memakan daging, dan bermain musik menyuarakan perdamaian dunia demi mendapat uang untuk makan. Kira-kira demikianlah gambaran sekilas tentang masa kecilnya yang tak biasa. Semuanya berpengaruh membentuk kepribadiannya yang halus dan walaupun tidak mengecap pendidikan formal, tetap membuatnya berwatak santun dan terhormat. Itulah River Phoenix yang dikenal sebagian sedikit orang.
Untuk melihat foto-fotonya kau bisa lihat disini : http://ellensplayground.com/myriverphoenixcollection/gallery.html

Berpose dengan anjing di iklan kampanye perlindungan satwa

River Phoenix adalah seseorang dengan karakter yang membuatku senang mempelajari sesuatu darinya. Ia bukan sekadar 'seseorang' dari industri hiburan. Bahkan ia mampu mempengaruhi banyak fansnya dengan positif. Justru mereka bercerita banyak, bahwa mereka terpengaruh gagasan penyayang hewan dan pecinta lingkungan seperti River. Bukannya justru menjadi junkie. Itulah anehnya, bagaimana, meskipun kita tahu 23 tahun adalah usia yang kelewat muda, dan kematiannya begitu ceroboh, ia tetap dikenang dengan sangat baik oleh orang-orang yang memberanikan diri mengenalnya. Ia ramah, baik, dan berbakat. Apalagi yang bisa kujelaskan? Kalian bisa simpulkan orang macam apa dia di website khusus http://www.river-phoenix.org/.
Tapi aku tidak bisa cerita banyak, maybe i'm too sad and lazy to write, frankly.
Berikut ini kutampilkan kutipan kata-kata dari berbagai sumber tentang dia :

"One thing I would like to do when I have the money is buy thousands of acres in the Brazilian rain forest and make a national park, so no one can bulldoze it to put a MacDonald's there."---River Phoenix.

"There's the optimistic side of me, too, which believes that we live in an incredible time and that if we all came together on the important issues and stand up for our rights, as Bob Marley said, we could really accomplish a lot. In my mind, I have all these utopias and fantasies, but I believe they can work, I really do."---River Phoenix.

As I watched River do his work, I was impressed by his generosity with the other actors. He was never competitive. In dailies, I would often notice that Jadrian Steele, the actor who played River's younger brother, would try to place himself in a prominent position on-screen. River always seemed to hang back to the furthest recesses. But the more he stepped out of frame, the more your eyes were drawn to him.---Raid Rosefelt, wartawan majalah Elle.

He wanted to be a rock musician like Sting. He was talking about changing his name to Rio, a single name, like Sting; he didn't think River Phoenix was an interesting name. I reminded him he could also be like Charo! He responded immediately to the implications.---Nancy Ellison
We went to Tokyo for the premiere of Stand By Me. . . . He would go to the park outside the Imperial Hotel--guys and girls were playing guitars there--and he'd tell them, "Come up, come up to the room." And that room was filled with kids from the park; he would play guitar for them and give them fruit and juice.---Iris Burton, manajer.

My ex-wife and I started to break up, and she had a little six-year-old. River gave him his first bicycle for Christmas, because he thought he needed a little consolation. While the two of us were figuring out what to do with our lives, this 22-year-old, or however old, was thinking about stuff like that--- William Richert, aktor.
He was always giving me advice about every aspect of my life--about girlfriends before I was married and then my marriage. He would take a fatherly attitude toward me. I think he did that with a lot of people---William Richer.
He was a strict vegetarian, a vegan--but it wasn't about health, it was about not killing. . . . That's a real important point. He wanted to be free; he didn't want to be chained to anything. He wasn't scared of anything. He had no fear---Sky Swoski, rekan.

He looked upon me as a kind of father figure. He'd knock at my door and ask if he could come in and sleep. . . . He'd sleep on the couch. I could hear him rehearsing his lines--at 4 in the morning. I said, "Fuckin' go to sleep." He'd be in the bathroom, taking a crap, doing his lines---Richard Harris, aktor.

The last time I heard from him, on the answering machine, he said, "I'm out here in Utah and I'm having kind of a hard time keeping my head above water in this crazy business." . So when he came back to L.A. he was on R and R. And a very pure person got into a situation that was bigger than him---William Richert.

It's just the expectation that you were going to work with him again. I recently thought of an upcoming project: Oh, there's . . . No, there isn't River. It's his uniqueness that is gone. I think it was Billy Wilder who said when Ernst Lubitsch died, "Ach, no more Ernst Lubitsch films." They were just his films. Now it's no more River Phoenix characters---Peter Weir, sutradara.

River never knew when he was going to fall asleep, because he always tried to extend the day much further than a day should be extended. He always felt that he had to fit a lot into the day. At the time when people normally like to sleep, River would like to get up and say, "Here are 25 songs that I wrote since the last time I saw you." He would be playing them and he would kind of fall asleep, and the next morning he would wake up in his clothes, his guitar just out of hand's reach.---Bobby Bukowski.

Jumat, 20 Agustus 2010

Oasis : Sad Song

Kadang-kadang saking sayangnya kita pada seseorang, yang mungkin lebih sering meyakiti hati kita, yang bisa kita lakukan hanyalah meyakinkan bahwa kita akan selalu berada dipihaknya, entah dia sedang hancur atau berada di puncak. Yang bisa kita tawarkan padanya adalah waktu dan segenap perhatian kita padanya, meyakinkan padanya bahwa semua baik-baik saja dan hal-hal buruk pasti akan lewat. Menurut ane itulah yang ingin disampaikan lewat lagu Oasis "Sad Song" yang ditulis oleh Noel Gallagher dan dinyanyikan oleh Liam Gallagher.
  ............Ladies and gentlemen, it's a Sad Song by Oasis!



Lirik :

Sing a sad song
In a lonely place
Try to put a word in for me
It’s been so long
Since I found this place
You better put in two or three
We as people, are just walking ’round
Our heads are firmly fixed in the ground
What we don’t see
Well it can’t be real
What we don’t touch we cannot feel


Where we’re living in this town

The sun is coming up and it’s going down
But it’s all just the same at the end of the day

And we cheat and we lie
Nobody says it’s wrong
So we don’t ask why
Cause it’s all just the same at the end of the day
We’re throwing it all away
We’re throwing it all away
We’re throwing it all away at the end of the day

If you need it

Something I can give
I know I’d help you if I can
If your honest and you say that you did
You know that I would give you my hand
Or a sad song
In a lonely place
I’ll try to put a word in for you
Need a shoulder? well if that’s the case
You know there’s nothing I wouldn’t do


Where we’re living in this town

The sun is coming up and it’s going down
But it’s all just the same at the end of the day
When we cheat and we lie
Nobody says it’s wrong
So we don’t ask why
Cause it’s all just the same at the end of the day

Don’t throw it all away

Don’t throw it all away
Don’t throw it all away
Don’t throw it all away
Throwing it all away
Throwing it all away
Throwing it all away

Throwing it all away

Throwing it all away
You’re throwing it all away at the end of the day...



 PS : i'm a little bit crack today.

I Want to Be A New Yorker

Mau cerita nih, hehe. Ternyata makin asik aja ya rasanya punya blog. Bisa markir sedikit di blog sederhana yang penuh tulisan ane doank emang kerasa kayak kumpul-kumpul keluarga, meskipun keluarga gw gak pernah kumpul-kumpul. Buat yang belum punya blog, well.. it's your loss, man!

Bulan Ramadhan kali ini ada kejadian yang menguji iman. Tepatnya, menguji kesabaran. Tapi ane malas cerita ke siapa-siapa, jadi ane putuskan buat let the steam out here. Feel free to comment, kids.

Malam yang panas dengan hati yang panas, ane menyimpulkan bahwa ane memang gak cocok hidup bermasyarakat. Bukannya masyarakat kota, tapi masyarakat kampung. Ane bilang 'kampung' karena ane memang tinggal dikampung. Watak warganya, kebiasaannya, sistem masyarakatnya bener2 jauh dari kesan perkotaan. Pokoknya satu tempat yang gak bisa dibandingkan dengan daerah seperti Pondok Indah atau Bintaro. Kira-kira seperi itu.

Nah, ane harus mengaku sedikit disini. Selain nyambi kuliah, ane juga menyempatkan diri mengajar di TPA masjid dekat rumah. Harus dikatakan juga itu bukan kemauan ane pada awalnya. Orang-orang masjid sendiri yang menawarkan, dan ane setuju saja. Hitung-hitung pengalaman mengajar. Ternyata memang lebih dari sekadar pengalaman mengajar. Benar-benar lebih dari itu.

Ane mengajar di kelas anak-anak yang rata-rata sudah mampu membaca Al-Qur'an dan usia mereka kira-kira antara 6-10 tahun. Kami sekelas ini lumayan kompak. Tiap minggu anak-anak mengumpulkan uang mereka (Rp. 1000) untuk ditabung menjadi uang kas kelas. Lama-kelamaan uang kas kami semakin banyak. Anak murid ane yang menjabat sebagai bendahara kelas, dia membujuk ane untuk 'melakukan sesuatu' dengan uang yang sudah terkumpul lumayan banyak itu. Kami memutuskan untuk mengadakan buka puasa bareng buat anak kelas yang sudah rajin-rajin bayar uang kas itu.

Kebetulan anak-anak kecil yang ngaji dengan ane di masjid---mereka bukan anak TPA, jadi mereka bukan anak kelas ane---juga ingin ikut acara buka puasa bareng. Mereka ane suruh untuk membayar uang 10.000 per-orang, jadi semua orang merasa adil, masa yang ndak bayar uang kas numpang makan gratis? Anak kelas ane bisa ngambek nanti. Jadi ane bilang : "Nt boleh dateng, dateng aja jam 5, tapi minta mamanya uang sepuluh ribu, yaa... kita mau buka pakai Hoka-Hoka Bento..". Begitulah.

Mereka benar-benar datang. Singkatnya acaranya lancar. Meski ada insiden, kotak bentonya kurang satu, coba! Soalnya tamu undangan ternyata diluar perkiraan, yang bukan anak kelas nambah banyak. Ortu juga ngundang anak yatim, dan kotak bentonya memang dilebihin dikit. Syukur alhamdulillah semua kebagian.. 

Tapi ada masalah lain. Malam harinya ane didatangi kepala sekolah, sebutlah bu Lely. Bu Lely mengeluh karena ane dianggap mengadakan acara sendiri tanpa mengundang guru-guru TPA lain dan anak-anak lain. Ane benar-benar merasa kacau. Ane benar gak tahu seerat itu 'ikatan kekeluargaan' di TPA masjid, sehingga satu acara harus semua orang merayakan. Ane benar-benar dibuat mingkem dan salah tingkah didepan Bu Lely itu. Dia kelihatannya sangat kecewa, dan mungkin sudah mengeluh ke semua guru TPA. Cara biacaranya sangat membuatku tersudut. Dia berceramah soal tradisi TPA masjid sini, soal kebersamaan, soal kekeluargaan, hal-hal yang ane gak mengerti itu. Sekarang mereka pasti menganggap ane terlalu eksekutif atau bodoh atau segala macam. Sungguh sulit.

Yang bisa ane katakan, baiklah.. ane salah. Ane meminta maaf berkali-kali pada Bu Lely. Ane bilang bahwa ane gak tahu menahu kalau satu acara, yang biaya penyelenggaraannya saja dengan uang kas anak-anak, harus melibatkan semua pihak. Ini benar-benar bikin bingung dan ane agak gelisah juga kalau ternyata masalah ini lebih besar dari kelihatannya di mata guru-guru lain. Bu Lely itu cara bicaranya benar-benar mencerminkan perasaan kecewa, dan sepertinya kesal juga. Well, i'm afraid i can do nothing bout it.

Tapi semuanya sudah terlanjur dan lagipula akan ada acara buka puasa bersama seluruh anak-anak, remaja, dan guru-guru TPA hari Minggu nanti (jujur ane jadi males dateng). Begitulah, bisa jadi ane dicap segala macam oleh mereka. Karakter masyarakat sini, berdasarkan kesimpulan ane setelah mendengar cerita-cerita dari ibu ane, adalah bahwa mereka senang bicara di belakang. What a bunch of phonies! Tapi ane tetap saja gak bisa melakukan apa-apa. Toh walaupun ane ngerasa salah, kalau dipikir-pikir, bukannya apa, ane gak sepenuhnya salah. Uang kas itu milik anak-anak dan bahkan ane gak ikut makan Hoka-Hoka Bentonya. Ane cuma menganggap ini adalah acara anak kelas ane dan rencananya memang mau kecil-kecilan saja, sebab apa jadinya tadi kalau mengundang semua orang? Gak mungkin ane nalangin makanan buat guru-guru lain, dengan uang ibu ane! No way. Kalau sudah begitu mau dijamu pakai apa mereka? Ane sebenarnya gak keberatan mengundang mereka, tapi yah.. ane kira kalau yang namanya uang kas yah harus dihabiskan mereka yang membayar saja. Memang gak ada salahnya mengundang. Nah ini salahnya ane juga. Ane gak mengundang mereka. Tapi ane gak mengira akan sebesar ini akibatnya. Ane gak menyangka akan sekecewa itu reaksi guru-guru lain! Whoa, it killed me. I mean, waktu ane di sekolah lama dulu, begitulah tradisi anak-anak. Masing-masing punya urusan. Kalau kelasnya mau buka puasa sendiri ya, silakan.... Tapi kalau mau buka puasa seangkatan, ya berarti semua diundang. Karena kan judulnya BUKA PUASA KELAS dan BUKA PUASA ANGKATAN.. beda tho'?? 

Ternyata disini gak berlaku begitu. Di masjid dekat rumah itu, acara atau kejadian sekecil apapun harus di-share bersama. Kedengarannya bagus ya? Well, ane tetap saja gak terbiasa begitu. Pertama, karena ane guru baru. Ane baru ngajar sebentar. Ane masih harus tahu lebih banyak tradisi2 disana. Kedua, ane juga gak suka keribetan dan keributan. See what i mean?

Maksud ane kayak gini : kesimpulannya adalah ane makin gak betah tinggal di daerah sini dan ane pikir ane sangat cocok untuk tinggal di kota macam New York atau London aja. Mereka itu hidupnya masing-masing,  individualis, tapi gak ada kejadian rumit yang bikin ane salah tingkah disini. Gosh, benci rasanya kalau tiap gerak-gerik ane diawasi mata-mata masyarakat keparat yang gak ada kerjaan ini. Sampai acara buka puasa kelas aja dibikin ribet. 

Have a nice day, kids..

PS : ane gak peduli orang mau ngecap ane apa, ane cuma makin ngerasa gak betah aja jadinya.

going to place where nobody knows if it's light or day..



Kamis, 19 Agustus 2010

Yang Disebut Dengan Kesombongan

Kita semua setuju kalau sombong adalah penyakit hati, kan? Bagus sekali. Nah, ane disini gak brniat menceramahi siapapun. Tapi seandainya, kids, kalian mau memberi sanggahan atau masukan yang bagus, feel free for it. Ane disini sekadar mau berbagi pemikiran saja, sebab ane pikir kalau banyak pemikiran kita tidak tersalurkan dengan baik, maka otak bisa mandek dan kehabisan kreativitasnya.

Allah SWT (i'm a muslim anyway, just for you to know), dalam kepercayaan saya pernah berfirman bahwa orang yang sombong alias angkuh tidak punya tempat di surga nanti. Dalam Islam, orang yang sombong berarti mereka yang merasa dirinya superior DAN merendahkan orang lain. Jangankan orang lain, bahkan kadang sang Pencipta juga dia rendahkan. Inilah yang bisa ane sebut sebagai penyakit sombong tingkat akut. Ia merasa sah-sah saja merasa begitu dan merendahkan yang lain. Ia merasa puas diri, dan tidak mau belajar.

Ane rasa kita semua haruslah bisa membedakan antara apa yang disebut dengan kesombongan dan kepercayaan diri. Meskipun ada lagi jenis lain, alias narsis. Narsistik artinya sifat seseorang yang mencintai diri sendiri secara berlebihan. Tapi itu kita bahas nanti saja. Yang pasti, ane menganggap narsistik adalah sifat negatif dan sangat dekat dengan kesombongan. Dan itu semua dekat dengan ego. Egois jelas-jelas adalah sifat jelek yang justru merendahkan orang itu sendiri. That's what i think.

Ane yakin semua dari kita pernah merasa superior dari orang lain, entah itu cuma sesaat atau sebesar apa tingkat kesombongan itu, tergantung dari karakter kita masing-masing. Sombong yang membuat seseorang malas belajar, menganggap orang lain tidak sama nilainya, dan yang--tentu saja--membuat iblis tidak ingin bersujud pada Adam 'alaihissalam sehingga ia dideportasi dari surga. Segitu parahnya akibat dari sifat sombong. 
Lalu bagaimana dengan sifat percaya diri?
Perbedaan mendasar antara keduanya jelas, yaitu : Jika sombong merasa ia paling hebat dalam bidang tertentu, tidak mau belajar, dan cenderung menyakiti perasaan orang lain dimana tak ada seorang pun yang berhak dicaci maki (kecuali orang-orang di faithfreedom, ane bercanda tapi agak serius). Sementara percaya diri adalah kebalikan dari itu semua. Percaya diri berarti meyakini potensi diri sendiri dan merasa bahwa dirinya pantas dan memiliki nilai, tapi TIDAK dengan merendahkan siapapun dari pihak manapun. Itulah.

Tapi satu hal yang ane yakini, tidak ada seorangpun yang pantas kita rendahkan, untuk alasan apapun. Termasuk diri kita sendiri. Jika kita menghormati diri sendiri, merasa bahwa kita ini pantas mendapat kebaikan, hal-hal baik itu pasti beneran terjadi pada kita. Ambil contoh, seseorang yang memberikan pidato dengan keyakinan, para audiens otomatis akan ikut meyakini apa yang dia ucapkan. Bagaimana dengan orang yang ragu? Audiens jelas akan merasa bosan dan menganggap perkataannya adalah omong kosong. Haha, ini berdasarkan pengalaman pribadi sebenarnya.. 
Ane pernah menyimak interview dengan salah satu seleb yang terkenal dengan kearoganan dirinya dan bandnya. Ia cukup terkenal, dan walaupun banyak yang mengejek kearoganannya, dia menampilkan sifat acuh tak acuh. Meskipun orang ini juga memiliki sejumlah penggemar fanatik dan mengamini semua opini pribadinya. Ketika ia ditanya oleh wartawan; "Mengapa kok anda yakin sekali musik anda yang terbaik didunia, lalu anda berkoar-koar soal itu?"
Well, dia menjawab :
"Sebenarnya itu semua terserah orang bagaimana menyikapi sikap saya. Saya yakin dengan yang saya ucapkan. Kau tahu kalau kau berkata dengan yakin : sayalah yang terbaik, lalu kau memberikan aksi nyata untuk mewujudkan kata-kata itu, yah... 50% orang akan percaya,"

I love this man.

Mungkin kita sering tercampur batas antara arogansi dengan kepercayaan diri. Tapi yakinlah, kita semua berhak mendapatkan yang terbaik. Tak ada dari kita yang cacat atau kurang, karena Yang Maha Sempurna sudah menciptakan kita dengan segala potensi yang kita punya. Yang perlu kita tambahkan ya, tentu saja, seperti yang seleb tadi katakan : yakinlah, maka orang-orang akan meyakinimu juga. Hampir tak ada yang tak mungkin untuk diwujudkan. Hanya... ingat, hanya Allah SWT yang tidak bisa kita lampaui. Benar-benar tidak boleh. Aku pernah dengar hadits yang mengatakan orang yang sombong tak akan mampu mencium bau surga.

Jadi lampaui semua batas diri yang kau ciptakan itu. Jangan buat mitos bahwa tak ada orang yang lebih cerdas daripada Albert Einstein, tak ada yang lebih berbakat dari Da Vinci, tak ada band yang lebih legendaris daripada Beatles, tak ada tim bola yang lebih hebat dari tim Jerman, blah blah... Lampaui semua itu dan teruslah belajar. Tapi jangan rendahkan siapapun. Siapa tahu kita tidak lebih baik daripada yang kita rendahkan, betul?


So we see the differences here, right? Give me your opinion.


ada kucing numpang mejeng, have a nice day kids!

Rabu, 18 Agustus 2010

Rumah Orang Asing

Rumah itu ada disana, diujung gang
Tersembunyi oleh pohon akasia besar dan rindang

Malam ini aku memimpikan pemandangan itu
Tentang rumah yang sepuluh tahun lalu kukunjungi :
Rumahmu

Aku tak mengenalmu, juga tidak ingat bagaimana kau mengenalku
Tapi suatu hari kau mengajakku kerumahmu dan disanalah aku mengenal
arti dari tempat yang asing. Sangat asing.
Pertama kalinya kulihat seseorang memajang bendera Amerika besar di dinding kamar
yang terlihat dari sebuah jendela besar dekat pintu, banyak jendela besar, seakan
semua orang bisa melihat kedalam lewat jendela-jendela kaca itu

Bob Marley menatapku dengan tenang dari dinding kamar
Seekor anjing besar berlari kearahmu
Aku tidak mengenal siapapun teman yang memelihara anjing kecuali kau
Nenekmu (atau ibumu?) sedang merajut sesuatu diatas kursi goyang
Sementara angin semilir yang membawa aroma tanah berembus
memainkan rambut ikalmu yang pirang

Lalu kau tersenyum seperti malaikat
dan yang kutahu waktu seakan melambat seperti dalam mimpi

Kukatakan padamu, aku harus segera pulang atau ibuku akan marah besar,
kalau marah, dia akan memukulku dengan sapu lidi
Lagi-lagi kau tersenyum
dalam mimpiku kau mengatakan sesuatu, tapi tentu saja aku lupa apa itu.

Aku tahu semua ini hanya mimpi.
Aku memimpikan kenangan yang tiba-tiba bangkit.
Rumahmu, anjingmu, Bob Marley, dan nenekmu
Senyum dan rambut ikal yang pirang milikmu

Apakah bila manusia semakin dewasa maka kenangan bekerja semakin dramatis?
Ataukah mimpi sebenarnya adalah keinginan yang terpendam?
Ataukah sebenarnya kau ingin aku kesana lagi?

Rumah itu tentu saja tak ada lagi. digantikan oleh pertokoan dan perumahan.

Tapi kau dan rumahmu beserta isinya tersimpan selamanya dalam benakku
...sebuah tempat yang asing, magis, tapi indah
Rumah orang asing.
Rumah seorang teman yang terlupakan.

PS:
This poetry based on my real experience with a friend which i forget the name, someone with name 'Immanuela something', she's white, i mean not Indonesian girl---i told you i forget it already. When one day i dreamed about her house, i went to the location the house was. The house, of course, wasn't there but shops and people houses. I don't know where she is today but i believe she's also forget anything about me. Like i do. All the scenes which i remember were exactly the same like i saw in my dream. A big white house, with many windows, and a big tree beside it.



Selasa, 17 Agustus 2010

My 5 Best Fictional Guy Characters

Hy, kids! Ane ngepost lagi. Bagus. Mungkin suatu saat ane akan bosan ngepost (kemungkinan kecil), tapi sampai saat itu tiba--haha--ane bakal terus ngepost tiap kali ada sesuatu yang menarik. Tenang saja, buat nt yang nyasar ke blog ini, bagus sekali. Sebab ane gak berniat mempublikasikan blog ini seperti blogger-blogger menyedihkan lain, kau tahu kan? Yang sampai memajang iklan baris porno, bikin stiker alamat blog mereka sendiri, atau yang sampai ngebet pengen di follow ribuan orang. Zzzz... disini gak akan ada iklan baris dan hal-hal goblok seperti itu. Soalnya ane bukan nyari duit. Ane menulis bukan untuk kalian, kids.. tapi buat diri ane sendiri. Jadi kalau mau komentar ya silakan, gak mau? Silakan juga
Hiah, ngelanturnya kok jauh betul??!


Ane suka baca buku. Kadang-kadang beberapa buku sangat berpengaruh dalam cara ane bersikap. Berikut ini adalah tokoh-tokoh fiksi dari beberapa buku terbaik yang kubaca. Ada yang sama denganku?

5. Miles O'Malley

Jika ada novel fiksi yang kubaca berulang-ulang ratusan kali, itu pastilah novel The Highest Tide yang dikarang oleh Jim Lynch. Miles adalah si tokoh utama dan jadi penutur sudut pandang pertama tunggal dari novel ini. Sebab kenapa aku sangat menyukainya, karena dia itu sangat pintar soal ilmu pengetahuan kehidupan laut dekat rumahnya di Puget Sound. Meskipun hampir disangka anak ajaib oleh sebuah sekte agama, dan anak jenius oleh media lokal, tapi ia tetap rendah hati (malah rendah diri juga). Dia berpendapat, tak ada yang istimewa dari dirinya. Yang aneh justru mengapa orang-orang selalu luput dari hal-hal indah dan menarik seperti kehidupan bawah laut? Sudut pandang yang lugu tapi cerdas itulah yang kusuka darinya.

What he says:
"most people realize the sea covers two thirds of the planet, but few take the time to understand even a gallon of it. … Most people don't want to invest a moment contemplating something like that unless they happen to stroll low tide alone at night with a flashlight and watch life bubble, skitter and spit in the shallows. Then they'll have a hard time not thinking about the beginnings of life itself and of an earth without pavement, plastic or Man"

4. Huckleberry Finn

Dari novel modern klasik Amerika "The Adventures of Huckleberry Finn" karya Mark Twain yang kontroversial. Huck Finn adalah anak cowok biasa yang hidup di era perbudakan di Amerika. Dia nakal, usil, pintar, dan berani. Yang membuatku menyukainya adalah meskipun masyarakat mengecapnya sebagai "anak nakal tidak berpendidikan" tapi ketika ia bertemu dengan Jim, budak pelarian yang nekat kabur untuk bisa merdeka, ia menolongnya bahkan berteman dengannya sehingga dimulailah segala petualangan mereka berdua dinovel ini. Hubungan yang tidak biasa antara anak cowo kulit putih dengan budak pelarian dewasa inilah yang jadi poin menarik.

What he says :
"Well, it made me sick to see it; and I was sorry for them poor pitiful rascals, it seemed like I couldn't ever feel any hardness against them any more in the world. It was a dreadful thing to see. Human beings can be awful cruel to one another."

3. Holden Caulfield

Holden adalah tokoh fiksi rekaan JD Salinger di novelnya yang gak lekang sepanjang zaman, The Catcher in The Rye. Setelah dikeluarkan sekolah karena nilainya yang anjlok hampir disemua mata pelajaran kecuali Bahasa Inggris, ia berniat untuk kabur dari rumah dan sekolah. Usianya yang 16 tahun, namun pandangannya yang sinis pada dunia dan orang-orang. Jiwanya yang memberontak sekaligus kesepian itulah yang membuatku, well.. menyukainya. Kau harus baca ini. Novelnya lucu, walaupun agak kasar. Ah! Dan satu hal, ane punya kesamaan dengannya. Kami sama-sama sangat benci para munafik. Kalau kau sama juga, bagus sekali. Tapi kalau kau bilang : semua orang juga pasti munafik, berarti kau setuju pada kemunafikan, dan artinya kau bisa menyingkir dari blog ini.

What he says:
"He was singing that song, "If a body catch a body coming through the rye." He had a pretty little voice too. He was just singing for the hell of it, you could tell. The cars zoomed by, the brakes screeched all over the place, his parents paid no attention to him, and he kept on walking next to the kerb and singing "If a body catch a body coming through the rye." It made me feel better. It made me feel not so depressed anymore."

"Take most people, they're crazy about cars. They worry if they get a little scratch on them, and they're always talking about how many miles they get to a gallon, and if they get a brand-new car already they start thinking about trading it in for one that's even newer. I don't even like old cars. I mean they don't even interest me. I'd rather have a goddam horse. A horse is at least human, for God's sake".

2. Atticus Finch

Siapa yang tidak tahu dia? Kau tidak tahu? You're so missing something worthy, then! Nah, kalian tahu novel To Kill A Mockingbird yang terkenal itu? Tidak tahu lagi? Mungkin kau cuma kenal Harry Potter saja, ya? Novel yang dapat penghargaan Pulitzer ini dikarang oleh Harper Lee. Atticus Finch adalah seorang pengacara Maycomb yang dibenci warganya karena membela hak seorang budak kulit hitam, Tom Robinson, dipengadilan. Sifatnya yang karismatik, kalem, bijak, tapi tegas pada segala tindakan yang salah membuat anaknya (Scout dan Jim) kagum pada ayahnya. Atticus adalah pecinta damai. Ia pendiam dan selalu serius, tapi lewat penuturan anaknya, Scout, di novel ini, kita akan menyadari betapa luar biasa Atticus Finch! I really want to be like him.

What he says:
"You never really understand a person until you consider things from his point of view--until you climb inside of his skin and walk around in it."

"Shoot all the bluejays you want, if you can hit 'em, but remember it's a sin to kill a mockingbird. Mockingbirds don't do one thing but make music for us to enjoy. They don't eat up people's gardens, don't nest in corncribs, they don't do one thing but sing their hearts out for us. That's why it's a sin to kill a mockingbird."

1. Samwise Gamgee

Pernah menonton The Lord of The Rings? Nah, ane juga membaca bukunya, karya JRR Tolkien. Buku yang bagus. Karakter favorit ane selain si Aragorn itu adalah Sam Gamgee. Ane gak bisa lebih kagum dari ini. Dialah sebenarnya pahlawan cerita. Yah, Frodo juga, tapi Frodo tak akan berhasil tanpa dukungan moral Sam Gamgee. Ya, dia tidak tampan seperti Holden Caulfield, ya, dia tidak jenius seperti Miles O'Malley, ya, dia tidak sekarismatik Atticus Finch. Tapi dia punya kesetiaan besar. Seperti Huck Finn setia kawan dengan Jim. Dia adalah partner terbaik dalam perjalanan. Dialah yang mengalahkan laba-laba raksasa Shelob dan yang melindungi Frodo dari Gollum. Setia kawan, berani, dan optimis adalah karakter utamanya. Buatku, Sam mengingatkanku tentang arti sahabat sejati, bukan munafik-munafik yang kau lihat tiap hari di kampus.

What he says:
Sam: It's like in the great stories Mr. Frodo, the ones that really mattered. Full of darkness and danger they were, and sometimes you didn't want to know the end because how could the end be happy? How could the world go back to the way it was when so much bad had happened? But in the end it's only a passing thing this shadow, even darkness must pass. A new day will come, and when the sun shines it'll shine out the clearer. Those were the stories that stayed with you, that meant something even if you were too small to understand why. But I think Mr. Frodo, I do understand, I know now folk in those stories had lots of chances of turning back, only they didn't. They kept going because they were holding on to something.

Frodo: What are we holding onto, Sam?

Sam: That there's some good in the world, Mr. Frodo, and it's worth fighting for.


Have a nice day, kids!