Hari ini seharian aku memang kacau.
Aku bercerita sedikit kepada temanku yang sedang belajar di Perancis. Kebanyakan dia bilang aku sebenarnya normal saja, tak ada yang salah dengan sikap dan keadaan mentalku. Kupikir ada benarnya juga dia, sebab kalau aku sudah gila, aku bahkan pasti sudah lupa caranya menulis blog.
Begitulah, meskipun aku agak merasa kacau, tapi kenyataannya semua baik-baik saja. Tidak ada yang meninggal, orangtuaku masih rukun, imanku masih lumayan, aku sendiri tidak terserang penyakit. Untuk ini aku ingin bersyukur pada Allah SWT. Alhamdulillah.
Tapi tahu tidak, baru semenit yang lalu aku mendapat suatu gagasan. Aku mendengar ada sekitar tiga orang yang tinggal 3 blok dari blok rumahku, mereka terjangkit DBD. Demam Berdarah Dengue. Mereka semua diopname karena itu, akibatnya orang-orang sekitar jadi paranoid dan mereka berencana untuk melakukan fogging (penyemprotan, kawan, kalau kau tidak tahu).
Mendengar itu, justru aku merasa kesal. Kupikir, kenapa tidak biarkan saja nyamuk-nyamuk itu hidup dan menggigitku? Saat ini aku sedang mencari cara bagaimana caranya supaya aku tinggal barang tiga hari diluar rumah ini. Meskipun itu harus rumah sakit. Maksudku mungkin enak juga kalau harus menginap disana sebentar. Kau tahulah kalau seseorang diopname karena sakit, meskipun sekadar tifus, mereka akan diperhatikan, dijenguk dan segala macam. Dan mereka dapat suasana baru, for God's sake! Aku benar-benar lagi kepingin, nih. Bodoh juga sih kedengarannya, tapi aku gak minta penyakit apapun selain itu. Itu kan tidak parah-parah amat. Sedanglah.
Kan? Sudah kubilang aku ini memang sinting. Aku bahkan berpikir kayaknya kalaupun lusa itu kiamat ya silakan. Bagus. Gagasan ini langsung terpikir begitu saja saat semalam ayahku memintaku untuk meraih gelar profesor. Profesor bidang sejarah Islam. Tapi aku kira bukankah itu gelar kehormatan atas kontribusi kita untuk sesuatu? Sedangkan aku benar-benar tidak terpikir untuk berkontribusi untuk itu. Sungguh. Apakah itu masalah. Masalahnya kalau ayahku sudah meminta itu artinya ia ingin aku melaksanakannya. Faktanya, ia tidak pernah meminta. Ia selalu menyuruh.
Dari awal aku memang berniat curhat di blog.
By the way, kids, adikku yang terakhir, si Vira---yang cantik itu---dia ikut perlombaan semacam fashion show tapi dengan busana muslimah. Lumayan juga dia. Dia memang suka bersolek. Tapi bukan bersolek norak. Jelasnya dia itu berlawanan denganku, yang tidak pernah memanjangkan rambut lebih dari leher (kecuali sekali waktu TK). Jadi waktu dia sedang mematut-matut diri di depan kaca sambil menguncir ekor kuda rambutnya, aku berkomentar :
"Terus saja dikuncir, nt bagusan dikuncir daripada digerai,"
Dia agak ge-er juga aku puji, "Masa? Bukannya bagusan digerai??". Dia masih sok ragu dengan pujianku padahal jelas betul dia senang dipuji dengan penampilan barunya.
"Iya bagusan dikuncir.."
"Tapi rambut aku 'kan shaggy, jadi agak berantakan kalo dikuncir...", rambutnya memang rada mencuat kemana-mana sewaktu dikuncir. Tapi aku bilang saja ;
"Nggak, keren kali. Kayak Kenshin Himura,"
Dia keliatan bingung, dia bertanya siapa itu Kenshin? Aku jawab saja; 'pokoknya dia cantik'. Ia setuju dan tampak puas. Lalu melenggang pergi ke masjid dengan kuncirnya itu.
NB : agak ngantuk hari ini, sesorean tadi cuma chat sama temen. Beneran gak berguna hidup ane. Besok ada kejadian apalagi nih selain dapet pulsa 50.000.
![]() |
| Kenshin Himura |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar